Home » » MEMBANGUN KETANGGUHAN PRIBADI KADER DENGAN AKHLATUL KARIMAH

MEMBANGUN KETANGGUHAN PRIBADI KADER DENGAN AKHLATUL KARIMAH

Written By MUHAMMADIYAH BONE on Jumat, 26 Agustus 2011 | 23.45

Hai orang-orang yang beriman!
Bertaqwalh kepada Allah,
Carilah jalan supaya dekat kepada-Nya
Dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu berjaya.
(Q. S. Al-Maidah ayat 35)

Seseorang dikatakan memiliki ketangguhan pribadi ketika ia berada pada posisi atau dalam keadaan telah memiliki pegangan prinsip hidup yang kokoh dan jelas, ia memiliki prinsip hidup atau cara berfikir yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungannya yang terus berubah dengan cepat. Ia mampu mengendalikan pikirannya sendiri ketika berhadapan dengan situasi yang menekan sekalipun.
Seseorang boleh dikatakan tangguh apabila sudah merdeka dari berbagai belenggu yang bisa menyesatkan penglihatan dan pikiran. Ia mampu untuk terus menjaga pikiran supaya tetap jernih dan dalam kondisi fitrah.
Orang yang memiliki ketangguhan pribadi tidak akan pernah merasa sakit hati, apabila ia sendiri tidak mengizinkan hatinya untuk disakiti. Ia mampu memilih respon atau reaksi yang ia sukai yag sesuai dengan prinsip yang dianut, disinilah pusat rasa aman yang sesungguhnya, bukan pada lingkungannya yang labil, melainkan pada iman yang mantap. Ia memiliki pedoman yang jelas dalam mencapai tujuan hidup, dan ia pun tetap fleksibel serta bijaksana dalam menghadapi realitas kehidupan yang nyata, ia mampu keluar dari dalam diri untuk melihat dirinya sendiri dari luar sehingga ia mampu bersikap adil dan terbuka pada dirinya dan orang lain.
Ketangguhan pribadi dihasilkan apabila seseorang hanya berpegang kepada Allah Yang Esa, dan tidak ada Ilah lain baginya kecuali Allah SWT yang menjadi gantungan/sandaran hidupnya tidak ada kecintaan kecuali Dia Allah pemilik kasih sayang terhadap dirinya.
Secara sistematis ketangguhan pribadi adalah seseorang yang telah memiliki prinsip berfikir sebagai berikut:
  1. Selalu memiliki prinsip landasan dan prinsip dasar, yaitu beriman hanya kepada Allah SWT.
  2. Memiliki prinsip kepercayaan, yaitu beriman kepada malaikat.
  3. Memiliki prinsip kepemimpinan, yaitu beriman kepada Nabi dan Rasul-Nya.
  4. Selalu memiliki prinsip pembelajaran, yaitu berprinsip kepada Al Qur’an Al Karim.
  5. Memiliki prinsip masa depan, yaitu beriman kepada “hari kemudian”.
  6. Memiliki prinsip keteraturan, yaitu beriman kepada “ ketentuan Allah”.
Untuk bisa menjadi orang tangguh harus mengikuti tiga langkah sukses, pertama: memiliki mission statement yang jelas yaitu “Dua Kalimat Syahadat”, kedua: “Shalat Lima Waktu” dan ketiga: ia memiliki kemampuan pengendalian diri yang dilatih dan disimbolkan dengan “Puasa”. Prinsip dan langkah ini teramat penting karena inilah yang menghasilkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ) yang sangat tinggi yang kemudian di dalam Islam dikenal dengan istilah Akhlakul Karimah.
Doktrin tauhid “Laa Ilaha Illallah” merupakan syahadat serta proklamasi kemerdakaan martabat kemanusiaan bagi setiap pribadi muslim, dengan penghayatan terhadap kalimat tauhid yang senantiasa terucapkan setiap kali shalat sedikitnya sembilan kali dalam sehari semalam, seharusnya mampu memberikan daya dan getaran energi pada jiwa, menjadi doktrin yang maha dahsyat yang akan mengisi dan menggetarkan qalbu. Apabila semua aktivitas kita dilakukan berdasarkan pijakan Ilah pada Allah, tentu akan melahirkan ketenangan, kepercayaan diri, integritas, motivasi, dan kebijaksanaan yang semuanya besifat abadi dari Azza wa Jalla.
Sejarah telah mencatat bagaimana kalimat syahadat ini pernah menghasilkan suatu generasi manusia pada abad keenam dan ketujuh masehi yaitu generasi sahabat Rasulullah SAW yang telah begitu menggetarkan dunia dengan menunjukkan kualitas akhlak mereka yang mulia dan agung namun sekaligus begitu perkasa, mereka disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah ada dalam sejarah perjalanan umat manusia.
Selanjutnya, apabila seseorang telah melaksanakan shalat lima waktu, maka ia akan melakukan pengulangan kekuatan batin sebanyak 270 kali dalam sebulan (9 x 30), atau 3.240 kali dalam setahun (270 x 12), jika seseorang telah melakukan shalat selama 10 tahun saja maka ia telah melakukan pengulangan batin sebanyak 32.400 kali dan ini dilakukan seumur hidup. Coba kita bayangkan energi yang ditimbulkan. Sesungguhnya ini bukan hanya energi tetapi juga pengasahan ESQ seseorang, melalui pembangunan moril alam bawah sadar seseorang.
Pertanyaan kemudian adalah, mengapa begitu banyak orang yang melakukan shalat tetapi tidak mampu memberikan pengaruh atau kemajuan yang berarti padahal ia telah melakukan shalat sekian tahun? Jawabannya ini tergantung pada pemahaman dan wawasan seseorang tentang iman dan arti shalat sesungguhnya. Apabila shalat dilakukan tanpa didasari oleh suatu pemikiran dan pemahaman mendalam tentang makna shalat sesungguhnya, maka ia akan sangat sulit sekali mendapatkan pengaruh yang baik dari tindakan yang dilakukan itu. Shalat bukan hanya perbuatan/gerakan fisik semata tetapi juga dengan menggerakkan hati, juga harus menciptakan suatu tujuan akhir dari shalat yang dilakukan.
Demikian halnya puasa sebagai media untuk melatih kemampuan diri seseorang dalam mengendalikan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga melahirkan kemampuan untuk berempati dengan sesama sekaligus mengokohkan kepedulian sosial serta menahan diri dari segala pengaruh atau keinginan di luar batas kesanggupannya.
Inilah yang kemudian menjadi model akhlak Rasulullah SAW, dimana beliau mampu dan hasil dalam menerapkan prinsip pemikiran 6 rukun iman dan 5 rukun Islam secara konsekuen di muka bumi ini. Hal ini terlihat dari integritas, komitmen, kepercayaan dirinya, serta sifat kesehariannya dalam menjalankan misi untuk mengubah kultur masyarakat dunia dan pada akhirnya ia mampu menjadi seorang pemimpin kelas satu dunia yang sangat disegani, dihormati, dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sejarah dunia sampai akhir jaman kelak keluruhan akhlak beliau diabadikan dalam Al-Qur’an, “Sungguh, pada diri Rasulullah kamu dapatkan suri teladan yang indah bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan Hari Akhir serta banyak mengingat Allah”. (Q. S. Al Ahzab: 21)
Kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagai bagian dari kaum Islam muda yang memiliki kemampuan dan energi kuat dalam mengubah dan membentuk paradigma berfikir Islami khususnya dikalangan intelektual muda diharapkan mampu menjadi suri tauladan dengan ketiggian akhlak serta kecerdasan berfikir dan bertingkah laku sehingga menjadi sinergis antara pola pikir dan pola tindakan, IMTAK dan IPTEK, saling bersinergis dalam membentuk generasi unggul yang cerdas dan berakhlak mulia.
Regenerasi kader ikatan sesungguhnya bukan hanya dari segi kuantitas tetapi lebih dari itu kualitas kader militan dalam hal akhlak dan ilmu jauh lebih penting dari segalanya termasuk komitmennya dalam melahirkan sebuah gerakan yang benar-benar mampu memberikan solusi terbaik dari semua kendala yang ada. Sehingga setiap kader mampu menempatkan diri sebagai solusi terbaik  bukan bagian dari masalah yang seringkali melingkari gerakan, sehingga kemampuan memikirkan perkembangan jauh ke depan selalu terhambat oleh persoalan yang berpusat pada kalangan kader sendiri. Dengan demikian, kader ideal sesungguhnya adalah yang memiliki watak intelektual (kemampuan mengasah diri dalam ilmu, prinsip pembelajaran), akhlak yang santun dan berwatak progresif (kemampuan untuk menangkap gejala sosial dan mampu menawarkan solusi terbaik dari setiap persoalan yang muncul).
Akhirnya sebuah harapan besar yang dihembuskan dari lahirnya kader-kader ikatan adalah sebuah tantangan sekaligus peluang untuk melahirkan gerakan yang lebih aplikatif dan mampu dalam menjawab kebutuhan zaman yang selalu bergulir tanpa batas. Maka kekuatan Emosional Spiritual Quotient (Akhlatul Karimah) adalah pijakan paling mendasar yang harus terpatri dalam diri setiap kader. Dan sebuah titipan pesan dari seorang M. Quraisy Shihab bahwa jangan pernah memulai suatu pekerjaan tanpa pernah tahu apa tujuan yang akan dicapai (apa tujuan akhirnya). Dan sesungguhnya hal terbesar dalam hidup seseorang “Menggapai Ridho Ilahi” adalah tujuan yang paling hakiki. Wallahu ‘alam bi sawab. Fastabiqul khairat.
Oleh : Hajrah Tahir
Share this article :

TULISAN TERPOPULER



 
Redaksi : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. MUHAMMADIYAH KABUPATEN BONE - All Rights Reserved